Dalam pidatonya ketika meresmikan kampus Fakultas Pertanian UI (cikal bakal IPB) di Baranangsiang, Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia berujar ; soal pangan, adalah soal hidup matinya bangsa. Pesan soekarno ini, sama seperti pesan-pesan kebangsaan lainnya yang ia miliki, telah menjadi bahan bakar semangat para penggiat dan aktivis dunia pertanian hingga kini. Soekarno ketika itu sesungguhnya memiliki cita-cita mulia, melalui peletakan batu pertama pembangunan kampus pertanian di Bogor ia mencita-citakan bangsa ini mampu memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya sendiri, maka masih dalam pidato yang sama ia sampaikan, “buat apa kita bicara tentang “politik bebas” kalau kita tidak bebas dalam urusan beras, yaitu selalu harus minta tolong beli beras dari bangsa-bangsa tetangga?”. Dalam sejarahnya, Bung Karno memang tercatat sangat berpihak pada kaum tani dan dunia pertanian. Hal ini terekam bukan hanya pada peristiwa peletakan batu pertama kampus IPB Baranangsiang, tetapi juga pada Undang-Undang Pokok Agraria yang disahkannya pada tanggal 24 September 1960 yang dalam selang waktu tiga tahun kemudian ia resmikan sebagai Hari Tani Nasional. Namun, andaikan Soekarno masih hidup sekarang, agaknya ia harus menelan ludah sendiri jika melihat fakta-fakta kondisi pertanian saat ini. Data BPS mencatat nilai impor beras Indonesia selama Januari-Juni 2013 sebesar 239 ribu ton atau US$ 124,4 juta. Sementara itu, jagung impor masuk ke Indonesia selama Januari-Juni 2013 tercatat 1,3 juta ton atau 393 juta dolar AS. Demikian pula dengan impor kedelai, periode Januari-Juni 2013 adalah 826 ribu ton atau 509,5 juta. Sedangkan impor tepung terigu dalam waktu yang sama mencapai 82.501 ton atau 36,9 juta dolar AS, belum impor buah-buahan cina dan produk-produk pertanian lainnya.

Permasalahan impor yang dilematis ini juga ditambah masalah konversi lahan yang menggila, tercatat setiap tahunnya 110 ribu hektar lahan pertanian di pulau jawa berganti menjadi gedung-gedung bertingkat, rumah-rumah hunian kelas menengah, dan jalan-jalan tol yang megah, kondisi ini pun terjadi di daerah-daerah lainnya di Indonesia, Ironisnya di sisi lain masih banyak lahan terlantar yang justru tak termanfaatkan untuk hajat hidup rakyat negeri ini, data Badan Pertanahan Nasional mencatat, setidaknya terdapat 4.885 juta hektar lahan terlantar di seantero negeri. jikalau kondisi ini kita biarkan, kita bukan hanya melupakan pesan Bung karno melalui pidatonya ketika meresmikan cikal bakal kampus Institut Pertanian Bogor, tetapi kita juga sedang menanam bom waktu penjajahan pangan bagi rakyat kita sendiri, kita secara tak sadar sedang menunggu didiktenya kebutuhan makan setiap rakyat, karena sebagaimana yang pernah Henry Kissinger –mantan menteri luar negeri amerika serikat- sampaikan “..Whoever has access to world oil, they will be able to control many countries in their hand. Whoever has access to food, they will be able to control people. (Siapa yang memiliki akses terhadap minyak, mereka dapat mengendalikan banyak negara di tangannya; namun Siapa yang memiliki akses terhadap pangan, mereka dapat mengandalikan setiap orang).

Dua permasalahan yang berkaitan secara tak langsung di atas ; impor pangan dan konversi lahan, semakin membuat para petani kita terjepit. Dalam 10 tahun terakhir, BPS mencatat jumlah petani menurun sebanyak 5.04 juta orang. Walaupun secara produktivitas produksi per lahan para petani kita meningkat, namun hijrahnya para petani menjadi pedagang, penyedia jasa, dan buruh industri membuktikan profesi-profesi tersebut masih dianggap lebih baik dibanding profesi petani. Memang berkurang dan berpindah profesinya para petani bisa menjadi salah satu indikator semakin majunya kondisi ekonomi bangsa kita, tetapi yang harus dicermati juga adalah hal ini berarti kurang baiknya regenerasi kaum tani di masa ini. Hal ini dapat teramati dari jumlah rata-rata usia petani kita yang masih diatas 50 tahun-an. Sedikit generasi muda yang punya pemahaman bahwa pertanian bukan hanya tentang caping, sawah, tanah dan lumpur, tapi pertanian adalah tentang “memberi makan” rakyat negeri ini.  Masih dalam rilis data BPS yang sama, penurunan jumlah petani terbesar justru terjadi di pulau Jawa, pulau yang secara sosio-historis memiliki personifikasi dengan wilayah yang subur dan nama sebuah tanaman pangan. Selain itu, jumlah kepemilikan lahan petani kita yang sangat kecil, hanya 0.3 ha per petani, dan masih banyaknya buruh tani atau petani gurem yang tak memiliki lahan sendiri seringkali menjadi alasan kesulitan pemerintah dalam membangkitkan dunia pertanian yang kini mati suri, dengan kepemilikan lahan yang relatif kecil dan marjinal, kerap kali pemerintah kesulitan untuk mentransfer teknologi dan mensejahterakan petani yang sudah terbiasa bercocok tanam dengan pengalaman empiris mereka.

 

Paradoks mengenai kondisi petani dan dunia pertanian ini sejatinya akan berhenti jika para pemimpin bangsa ini benar-benar memaknai pesan Bung Karno pada paragraf awal di atas, dimana seharusnya peran pemerintah sangat berpihak dan dominan bagi para petani dan dunia pertanian. Dalam menentukan kuota impor misalkan, andaikan pemerintah benar-benar berpihak kepada dunia pertanian, maka tak akan terjadi simpang siur informasi akibat perbedaan kepentingan masing-masing kementerian yang seringkali mengaburkan data kebutuhan impor produk pertanian di negeri ini. Maka tak heran, seringkali kita mendengar tercekiknya petani akibat perbedaan klaim dan data masing-masing kementerian yang berujung dengan impor produk pertanian. Begitupun dengan konversi lahan, andaikan pemerintah kita juga berpihak pada dunia pertanian, pengawasan dan implementasi terhadap pelaksanaan Undang-Undang Pokok Agraria tak akan mudah terkhianati secara cita-cita oleh Undang-Undang Penanaman Modal Asing, Undang-Undang Perkebunan, Undang-Undang Kehutanan dan Undang-Undang lainnya. Pun sama halnya dengan keberpihakan pemerintah kepada para petani, walaupun secara perundang-undangan Undang-Undang Pokok Agraria mulai dipetieskan dan dikhianati, tapi pemerintah kita  perlu berkaca dan belajar dari orde baru dalam memperlakukan petani, yaitu dengan memberikan insentif, mensubsidi besar-besaran pupuk, dan melakukan kebijakan stabilisasi.

Namun, seburuk apapun kondisi pertanian kita saat ini, sejatinya kita tak boleh menyerah pada keputusasaan, kita harus meyakini bahwa kita tak akan pernah memiliki seluruh persyaratan untuk pesimis. Maka, kunci daripada kebangkitan dunia pertanian bangsa ini adalah kembali memaknai pesan dan cita-cita Bung Karno tentang pertanian dan berdaulatnya pangan rakyat bangsa ini. Salah satu modal yang bangsa kita punya dan harus teroptimalkan adalah populasi penduduk yang kita miliki, Struktur demografi republik ini tergolong sehat, yaitu terkonsentrasi pada usia produktif (15-60 tahun). Bandingkan dengan negara maju, seperti Amerika Serikat, yang umumnya didominasi penduduk usia tua. Di sini rasio ketergantungan penduduk usia tua terha­dap usia muda bahkan terus menunjukkan penurunan hingga mencapai titik terendahnya pada 2030. Sehingga 18 tahun ke depan merupakan tahun emas bagi Indonesia karena momen­tum pertumbuhan ekonomi yang sangat baik. Tentunya keberadaan generasi produktif ini harus kita optimalkan bukan hanya bagi dunia industri non pertanian, tetapi juga bagi dunia pertanian baik hulu sampai hilir melalui intervensi pendidikan. Artinya generasi bangsa ini harus dikenalkan dan dibiasakan berinteraksi, memahami esensi dan mencintai dunia pertanian sejak dini melalui pendidikan formal di sekolah-sekolah dasar dan lanjutan, bukan hanya di perguruan tinggi pertanian. Sebagaomana penulis dulu mendapatkan mata pelajaran pertanian ketika sekolah menegah pertama. Bukan seperti sekarang, yang anak-anak negerinya memandang remeh pria-pria tua bercaping sambil menenteng cangkul, yang terbiasa memubazirkan setiap butir nasi yang mereka bahkan tak tahu dari mana asalnya, yang lebih terbiasa mendengar dan melafalkan kata pepaya California, jambu Bangkok, dan jeruk Ponkan dibanding papaya Calina, jambu Demak dan jeruk Berastagi.

 

Selanjutnya adalah distribusi demografi dan sumber pangan, selama ini sudah mafhum kita ketahui bahwa penduduk negeri ini cenderung terpusat di pulau Jawa, data sensus penduduk tahun 2010 mencatat, 57.48 % penduduk Indonesia tinggal di pulau Jawa yang hanya memiliki luas 7 % dari luas Nusantara. Hal inilah yang menyebabkan kebutuhan pangan dan keberadaan sumbernya terpusat di pulau Jawa, maka tak heran jika dulu Bung karno pernah bercita-cita, untuk memindahkan Ibukota ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Oleh karenanya, pemerataan distribusi penduduk negeri ini seharusnya adalah sebuah keniscayaan, sehingga distribusi pangan dan pertanian pun akan merata. Namun, pemerataan ini penduduk dan sumber pangan ini pun harus sirama dengan cita-cita Undang-Undang Pokok Agraria, dimana aspek pembangunan pertanian yang harus terdepan dan utama.

 

Hal yang tak boleh terlupa dan harus terlaksana juga adalah hubungan kemitraan antara pemerintah, perguruan tinggi dan para pelaku dunia pertanian dari hulu sampai hilir. Perguruan tinggi yang memiliki amanah untuk mengamalkan Tri Dharma nya ; pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat harus mampu menjawab kebutuhan para petani dan pelaku usaha pertanian, sehingga perguruan tinggi bukan hanya menjadi penyuplai sumber daya manusia dan pembentuk citra positif dunia pertanian, tapi perguruan tinggi juga harus mampu menemukan inovasi-inovasi teknologi yang dapat diadopsai dan mudah digunakan para petani, hal ini sebagaimana pemaknaan kita terhadap pesan Bung Karno ketika meletakan batu pertama cikal bakal perguruan tinggi pertanian terbesar di Indonesia ; Institut Pertanian Bogor. Pada kenyataannya, pemanfaatan inovasi-inovasi teknologi ini seringkali tak optimal dikarenakan minimnya peran pemerintah untuk mengintervensi. Misalnya ketika IPB yang dalam kurun waktu 5 tahun terakhir (2008-2012) berhasil menemukan 179 inovasi di bidang pertanian dan menjadi perguruan tinggi yang memberi kontribusi terbanyak dalam daftar inovasi prospektif yang dikeluarkan oleh Kemenristek dan BIC (Bisnis Inovation Center) diantara 510 inovasi lainnya. Tapi minim sekali adopsi dari pemerintah terhadap inovasi-inovasi tersebut, sehingga seringkali inovasi-inovasi tersebut hanya menjadi prototype-prototype, poster-poster dan lembaran-lembaran bacaan di buku-buku pameran. Oleh karenanya, kerjasama untuk mengadopsi inovasi teknologi dari perguruan tinggi oleh pemerintah mutlak harus dilakukan.

 

Salah satu pemecahan masalah yang tak kalah pentingnya adalah tentang diversifikasi pangan. Terkait permasalahan diversifikasi pangan ini, kita memiliki ketergantungan yang hebat terhadap beras sebagai bahan makanan pokok. Data BPS mencatat konsumsi beras rata-rata penduduk Indonesia adalah 139 kg per kapita saat ini, kondisi tersebut akan semakin melemahkan ketahanan pangan di negeri yang berpenduduk lebih dari 230 juta jiwa ini. Pemerintah orde baru pun sempat melakukan kebijakan blunder dalam menyikapi diversifikasi pangan pokok, yaitu ketika pemerintah orde baru mencoba menyeragamkan beras atau nasi sebagai pangan pokok seantero negeri. Padahal, alaminya pangan pokok negeri ini tak harus bahkan jangan sampai seragam, sehingga tepatlah ungkapan-ungkapan tentang pangan pokok nusantara, bahwasanya jagung itu makanan pokoknya orang Madura dan sagu itu pangan pokoknya orang-orang Papua. Sehingga keberagaman pangan pokok di Nusantara akan menjadikan bangsa ini tak memiliki ketergantungan pada satu makanan pokok saja. Kemudian penyediannya pun bisa lebih mudah dikontrol. Untuk masalah keberagaman pangan pokok ini, memang perlu dorongan kuat dari pemerintah dan kesadaran kita sebagai masyarakat yang melek pertanian. Salah satu tanda kesadaran kita bisa terlihat ketika mengganti nasi sebagai makanan pokok walaupun tidak setiap hari dengan umbi-umbian lokal, dengan jagung, dengan ketela dan bahan pangan lokal lainnya yang memiliki gizi hampir setara dengan nasi. Bukan malah dengan mie atau roti yang justru merupakana hasil olahan gandung yang meruapakan produk impor 100 %.

 

Di luar ikhtiar pemakanaan terhadap pesan Bung Karno di masa lalu di atas, masih banyak hal-hal kecil yang dapat kita lakukan sebagai masyarakat yang harus senantiasa mempersiapkan dan menginginkan kedaulatan pangan bagi bangsanya sendiri, diantara hal-hal sederhana itu adalah dengan menghabiskan atau tidak memubazirkan setiap butir nasi, jagung ataupun makanan lainnya yang kita makan, dengan senantiasa memakan buah lokal dan produk-produk pertanian dalam negeri kita sendiri, jika hal tersebut terlaksana, artinya kita telah menghormati dan menghargai setiap tetes keringat para petani di negeri ini.

Dalam bukunya yang berjudul The Genuine Islam, George Bernard Shaw berujar , “Apabila orang semacam Muhammad memegang kekuasaan tunggal di dunia modern ini, dia akan berhasil mengatasi segala permasalahan yang sedemikian rupa hingga membawa kedamaian dan kebahagiaan yang dibutuhkan dunia”. Ada gurat keyakinan sekaligus keputusasaan tersirat dalam pernyataan Bernard Shaw tersebut. Keyakinan akan sosok Nabi Muhammad SAW yang dengan segala kepribadian dan kompetensinya sebagai seorang pemimpin akan mampu menyelesaikan permasalahan manusia abad ini. Keputusasaan  karena sampai kapanpun tak ada yang mampu menyamai beliau SAW dalam memimpin dan menyelesaikan permasalahan umat. Beliau SAW adalah ahli agama sekaligus dunia, santun pada sesama, hormat pada yang tua, sayang pada yang muda, ahklaknya mulia. Dewasa ini, Kecakapan beliau dalam mengelola umat diformulasi dalam sebuah konsep kepemimpinan yang jamak kita dengar sebagai Profetik Leadership.

Profetik Leadership secara sederhana mengacu kepada empat sifat kenabian yang populer yaitu Jujur,  Amanah, Cerdas dan Komunikatif. Tentu saja keempat sifat kenabian tersebut masih memiliki turunan-turunan yang tidak sedikit untuk kita teladani seperti ketabahan, kesabaran, keberanian dan kemampuan merasakan penderitaan. Serpihan-serpihan konsep profetik leadership tersebut barangkali dapat kita temui pada karakter-karakter pemimpin bangsa di era pergerakan kemerdekaan, sebut saja pada H. Agus salim dengan kredonya yang terkenal yaitu Leiden is Lijden (memimpin adalah menderita), atau pada menggebu-gebunya nasionalisme bung karno dan konsep Marhaennya, serta pada  ketabahan Jendral Soedirman yang bergeriliya sambil mencoba bersahabat dengan sakit paru-parunya.  Sampai saat ini sepertinya baru tokoh-tokoh sejarah di era pergerakan –dengan segala kurang lebihnya- yang masih pantas kita jadikan acuan terutama dalam konsep kepemimpinan untuk konteks republik ini.

Bercermin pada era demokrasi sekarang ini, rasanya keteladanan para pemimpin atau pejabat publik kita masih tak sebanding dengan para pahlawan di era kemerdekaan, terlebih jika membandingkan dengan Zaman kenabian. Hari ini kekuasaan bukan lagi alat untuk menyejahterakan, melainkan alat untuk memperkaya diri dan golongan. Akibatnya, kepentingan rakyat selalu menjadi nomor sekian. Rakyat terbiarkan menjadi kuli, sementara pejabat berpesta pora menari-nari.  Oleh karenanya, adalah sebuah kewajaran kehadiran sosok Jokowi yang egaliter dan terkesan ndeso atau dahlan iskan yang out of the box disambut bak pemimpin alternatif di negeri ini. Terlepas ada yang berpendapat peran media juga kentara di dalamnya.

Dalam banyak kajian, konklusi tentang tema kepemimpinan biasanya berakhir pada harapan dan pujian akan generasi muda. Kepada para pemuda harapan selalu disematkan, kepada para pemuda perbaikan dan perubahan selalu diamanahkan. Sebagaimana sering kita dengar perkataan bung karno tentang impiannya akan sepuluh pemuda pengubah dunia. Selain itu, yang menjadikan istimewa tentunya sang inspirator profetik leadership, Nabi Muhammad SAW, yang dinobatkan Tuhan menjadi Rasul di usia muda. Keistimewaan pemuda juga  terletak pada ide-ide segar dan idealismenya. Oleh karenanya, adalah sebuah kewajaran ketika di pundak para pemuda harapan dan perubahan selalu dipercayakan.

Dalam konstelasi pemuda di negeri ini,  representasi generasi muda biasanya diwakilkan oleh mahasiswa, sebuah generasi yang mempunyai akses untuk mendapatkan pendidikan yang lebih luas, yang mempunyai akses belajar secara komprehensif dan mendalam lewat pendidikan formalnya di dalam kelas dan non formalnya di organisasi. Selain itu, kampus tempat pemuda belajar sejatinya adalah miniatur nusantara, tempat para pemuda yang distatuskan sebagai mahasiswa belajar memimpin, mengelola dan menyelesaikan permasalahan bangsa dalam lingkup yang lebih kecil. Dari pembelajaran tersebutlah kelak para pemuda akan memainkan perannya sebagai Agent Of Change. Peran besar pemuda ini tentu masih terpatri dalam memori kita ketika tahun 1998 arah sejarah bangsa ini diubah dengan satu kata : Reformasi.

Melalui  akses pendidikan yang lebih luas dan komprehensif di perguruan tinggi, para pemuda atau mahasiswa yang ditempa edukasi sejak dari usia dini tentunya sudah sangat faham dan mengetahui bahwa republik ini sangat kaya. Sumber daya alam, jumlah pulau, budaya, bahasa, sampai potensi populasi penduduknya adalah harta yang diberikan Tuhan tidak ke sembarang bangsa. Sayangnya, berbagai generasi yang berganti belum mampu mengelola  bangsa ini dengan baik. Sampai hari ini, republik kita sepertinya masih betah dengan predikat negara berkembang. Oleh karenanya, adalah sebuah keniscayaan bahwa bangsa ini harus berubah di tangan para pemuda, berubah dari miskin menjadi kaya, dari bermental jelata menjadi bermartabat, dari ketergantungan menjadi berdaya, sebagaimana kehadiran sosok Nabi Muhammad SAW yang merubah tatanan peradaban bangsa arab dan dunia dengan Profetik Leadership-nya. Dalam konteks bangsa ini, Perubahan dan perbaikan sejatinya adalah janji yang sejak 67 tahun lalu diucapkan melalui proklamasi, dijaga melalui UUD bangsa ini, dan dipatri melalui pancasila. Janji ini harus segera dilunasi, bukan hanya pada sebagian rakyat republik ini.

 

Hari ini, secara fisik kondisi bangsa ini memang tak segetir era perjuangan kemerdekaan. Namun, kearifan para founding father bangsa dalam memimpin masih sangat relevan sampai sekarang. Apalagi konsep profetik leadership warisan Nabi. Hari ini pula, sosok-sosok pemuda yang meneledani Nabi Muhammad dalam memimpin masih kita cari. Dalam konteks mahasiswa saat ini, pembelajaran dalam memimpin dan meneladani sosok Nabi menjadi sangat penting, dalam hal kejujuran misalnya, mahasiswa harus geli dengan urusan contek-mencontek ketika ujian, copy paste dalam mengerjakan tugas, ataupun segala bentuk praktek ketidakjujuran dari mulai paling kecil hingga yang tak sederhana. Dari sanalah integritas kita sebagai pemuda dipupuk. Dari sanalah idealisme kita dibentuk. Kejujuran, akan membimbing kita kepada gerbang integritas yang menjadi salah satu kunci sukses kepemimpinan Nabi. Dari kejujuran yang berbuah integritas kelak, tentunya kita berharap praktik-praktik korupsi dan penyelewengan seperti yang dilakukan pejabat publik kita hari ini dapat terreduksi.

Selain berperilaku jujur yang buahnya adalah integritas, salah satu karakter kepemimpinan Nabi lainnya adalah Amanah. Amanah dalam hal ini bisa kita artikan sebagai professional, setia menjalankan mandat yang diberikan dengan sepenuh hati, tahu konsekuensi dan tanggungjawabnya. Melalui bergabung dalam organisasi atau lembaga kemhasiswaan di kampus, mahasiswa tentu akan ditempa jati dirinya dalam memaknai amanah. Dari tempaan ini akan lahir sikap professional dan kecintaan terhadap kepercayaan publik, yang pada akhirnya kecintaan terhadap kepercayaan publik tersebut akan mewajibkan kita untuk senantiasa menjaganya.

Selanjutnya adalah komunikatif, Nabi Muhammad SAW senantiasa komunikatif dalam menyampaikan apa yang hendak disampaikan. Sebagaimana beliau mempraktikan fase dakwah sembunyi-sembunyi dan terang-terangan. Kemampuan komunikasi, sangat terfasilitasi dalam  dunia kampus. Hal ini terejawantahkan ketika kita banyak bersosialisasi, banyak berkomunikasi dan berinteraksi dengan berbagai macam latar belakang rekan di organisasi. Oleh karenanya, kemampuan berkomunikasi yang baik, atau komunikatif ini  menjadi kunci sukses seorang pemuda dalam memimpin. Andaikan para pejabat publik kita faham, mungkin kegaduhan-kegaudahan politik yang sering kita saksikan di media tak akan terjadi.

Yang terakhir tentunya adalah kecerdasan, kecerdasan yang oleh beberapa orang dikelompokkan kedalam intelejensi, emosi dan spiritual. Adapula yang mengelompokannya menjadi delapan tipe kecerdasan yaitu kecerdasan linguistic, interpersonal, matematis-logis dan sebagainya. Namun, dalam konsep profetik leadership yang merupakan warisan Nabi ini kecerdasan juga bisa diartikan dengan visioner. Visioner dalam artian bukan pandai meramal masa depan, tapi visioner yang berarti mengerti arah gerak perubahan peradaban sehingga pikiran seorang pemimpin bisa jauh lebih “canggih” dibanding manusia lain di zamannya. Dalam konteks mahasiswa, barangkali kecerdasan ini salah satunya mutlak didapatkan dari dalam kelas. Sebagaimana kita sudah dikelaskan berdasarkan core competence masing-masing pribadi. Namun, kecerdasan dalam artian visioner tentunya juga dapat didapatkan ketika kita sering berinteraksi dengan masyarakat, sering peduli dengan apa yang terjadi pada bangsa ini, tak peduli urusan politik, sosial, pendidikan, budaya dan lainnya. Melalui kepedeulian yang biasa ditumbuhkan dalam organisasi tersebut, kita bisa mengerti arah gerak perubahan peradaban. Darinya pola pikir kita akan jauh lebih matang dan jauh ke depan.

Menyambut produk-produk globalisasi semisal ASEAN Free Trade Area yang terwacanakan di tahun 2015 dan Asia-Pacific Economic Cooperation atau APEC pada tahun 2020. Para pemuda republik ini harus mempersiapkan diri menjadi para pemimpin yang menentukan arah gerak peradaban bangsa. Bukan sekedar menggantikan ketidaksiapan mental para pemimpin bangsa sebelumnya, tetapi juga demi akselerasi peradaban nusantara yang bersinar bagi dunia. Para pemuda kita harus banyak menempa diri, menempa kapasitas, dan tentunya meneladani konsepsi kepemimpinan Nabi, karena sampai kapanpun, konsepsi tersebut masih akan relevan setiap zamannya.

Harapan akan bangkitnya bangsa dari keterpurukannya, harapan akan berubahnya status republik ini dari depeloving country menjadi depeloved country kedepan tentu akan menjadi nyata. Tentunya harapan ini dipercayakan kepada para pemuda, terutama yang memiliki akses pendidikan lebih luas seperti mahasiswa. hal ini ditambah dengan bonus demografi yang diprediksi akan dialami bangsa kita pada tahun 2020-2030, atau lahirnya generasi emas Indonesia di tahun 2025. Bonus demografi ini ditunjukkan dengan proporsi penduduk usia produktif yang sangat besar yakni sekitar 69% dari jumlah penduduk Indonesia. Sedangkan rasio angka ketergantungan (dependency ratio) mencapai titik terendah. Artinya, pada saat itu jumlah angkatan kerja sangat besar, namun menanggung beban kelompok usia anak dan lansia yang sangat kecil. Dengan kata lain, jumlah pemuda Indonesia saat itu menempati jumlah yang potensial. Oleh karenanya kita berharap di tangan kita, para pemuda, para mahasiswa, perubahan itu akan segera kita jemput. Tentu dengan tempaan konsepsi profetik leadership a la Nabi yang harus kita teladani. Dengannya kita berharap, anugerah yang diberikan Tuhan tidak ke sembarang bangsa dari mulai sumber daya alam sampai bonus demografi yang akan kita alami ini kita syukuri dengan mewujudkan perubahan arah gerak peradaban bangsa menjadi berdaya.

Zaenal Muttaqin

Mahasiswa FMIPA IPB

 

Adalah kepala kejaksaan korea selatan, Han Sang-Dae yang pada akhir November tahun lalu membungkukkan badan sembari melantunkan permohonan maafnya kepada masyarakat melalui media. Ia terindikasi terlibat kasus penyimpangan suap ribuan juta Won dan kasus skandal seks yang melibatkan salah satu anggota kejaksaan. Tentu saja yang ia lakukan bukan hanya sekedar meminta maaf, tetapi juga  menyatakan pengunduran dirinya sebagai kepala kejaksaan. Padahal ia hanya terindikasi terlibat, bukan sudah didaulat sebagai tersangka apalagi terdakwa yang secara legal-formal harus meletakkan jabatan. Namun, ia sadar bahwasannya amanah bukan hanya tentang legal-formal semata, tapi amanah juga adalah tentang bagaimana merawat kepercayaan publik. Publik yang selalu mengawasi kita walaupun tak se-maha Melihat Tuhan.

Kisah mirip Han Sang Dae tahun lalu itu kembali terulang dalam minggu ini, tepatnya terjadi di negeri Siberia, Rusia. Seorang hakim yang tertidur saat sidang berlangsung, Yevgeny Makhno langsung mengundurkan diri setelah takaran keetisan dirinya sebagai pejabat publik menjadi kosong karena kelalaiannya.

Menjadi pejabat publik juga berarti menjadi penjaga gerbang kepercayaan publik, terlebih jika kita kaitkan dengan filosofi pemimpin yang harus senantiasa menjadi teladan bagi yang dipimpinnya. Dan celakanya publik tidak selalu identik dengan rakyat seluruhnya. Ruang publik adalah dimensi yang sangat dinamis, tempat opini positif dan negatif dilemparkan. Seorang pejabat boleh jadi hasil pilihan mayoritas konstituennya, tapi ia bisa jatuh oleh opini negatif segelintir orang. Bahkan, di republik ini opini negatif yang sebenarnya dilemparkan ke ruang publik oleh segelintir orang sanggup menurunkan seorang presiden di tahun 2002.

Memang tak semua kritik apalagi opini negatif harus dijawab dengan melengserkan jabatan, tapi sebagaimana pembukaan UUD pada pokok pikirannya yang keempat menasihatkan, bahwa siapapun anak ibu pertiwi harus memiliki jalan “kemanusiaan yang adil dan beradab”, maka sepatutnyalah para pejabat publik menjaga keetisan dan keberadaban dalam bertindak, baik melalui ucapan, tulisan ataupun  tingkah perbuatan, termasuk memerhatikan aspek kepatutan dalam memimpin.  Andaikan para pejabat kita faham, mungkin bupati garut sekarang tidak akan menjadi enemy of public orang Garut sendiri.

Mencermati perilaku pejabat publik di negeri ini, entah itu pejabat di pemerintahan ataupun partai politik, sikap melengserkan jabatan karena ketidaketisan perilaku, terlebih jika dikarenakan cengkeraman gurita bernama korupsi adalah sesuatu yang seharusnya sering kita lihat dan saksikan. Data kementrian dalam negeri menyebutkan, setidaknya 173 kepala daerah di Nusantara tersangkut kasus korupsi,  ditambah 2.976 anggota dewan yang mendapatkan izin pemeriksaan atas berbagai kasus dan skandal, dan yang paling banyak tentunya adalah skandal korupsi. Di lain sisi, data dan fakta tersebut menjadi salah satu landasan bagi beberapa pemangku kebijakan untuk meredefinisi makna demokrasi yang selama ini kita kenal dengan direct democracy atau pemilihan langsung menjadi asas keterwakilan seperti era sebelum reformasi.

Ironisnya, kesadaran pejabat publik kita untuk melengserkan jabatan karena skandal masih langka kita temukan. Masih terekam dalam ingatan kita, betapa terkatung-katung proses lengsernya jabatan salah seorang anggota dewan yang juga bendahara umum partai penguasa. Belum lagi kisah persatuan sepak bola kita yang pernah dipimpin oleh seorang narapidana. Yang terbaru tentunya adalah keukeuh-nya bupati Garut yang sepertinya tak sadar, bahwa menjadi pemimpin sejati bukan hanya terikat aturan konstitusi, tetapi terikat norma dan etika yang seringakali tak tertulis tapi mendalam makna dan pengaruhnya.

Terlepas dari banyaknya hujatan dan pembelaan, lengsernya salah seorang petinggi partai politik menengah yang seringkali membawa jargon bersih dan simbol agama baru-baru ini barangkali menjadi oase bagi beberapa orang. Walaupun agak disayangkan karena scope-nya terbatas pada partai politik saja. Namun,  andaikan kesadaran merawat kepercayaan publik ini dimiliki bukan hanya petinggi partai politik, tapi juga seluruh elemen bangsa. Mungkin akan banyak cerita-cerita arif kita saksikan dalam berita di layar kaca, bukan lagi cerita arif tentang pemaknaan terhadap jabatan yang diimpor dari luar Nusantara.

Sejatinya tak boleh ada apresiasi berlebih dan istimewa dari kita semua untuk kesediaan pejabat publik yang melengserkan diri karena tersandung skandal dan kasus serta ketidaketisan. Apalagi menggebu-gebu membela dengan logika konspirasi yang justru menggebosi dan menganggu kinerja instansi penyidik di negeri ini. Jika kasus dan skandal yang menimpanya terbukti, maka yang berlaku adalah konstitusi. Ditambah hukuman “dosa sosial” yang tentu menjadi lumrah baginya. Yang menjadi penting adalah pembelajaran tentang sikap ksatria yang ia miliki. Sehingga para pejabat publik lain hati-hati dan memiliki kesadaran penuh terhadap amanah yang ia emban.

Kita yang memposisikan diri sebagai publik tentunya berharap kisah-kisah ksatria pejabat publik di luar republik ini menular di Nusantara. Darinya kita berharap kepekaan pejabat kita semakin bertambah, kearifannya semakin tajam, serta pemaknaannya terhadap jabatan semakin mendalam, sehingga mental-mental pejabat kita bukan hanya ingin dilayani ataupun hanya memiliki kesediaan untuk memangku jabatan, tapi juga kesediaannya untuk meletakkan jabatan.

Zaenal Muttaqin

        Presiden pertama republik ini pernah berujar  “pertanian adalah soal hidup mati bangsa”. Penggalan  kalimat sarat makna dan ketegasan, bahwa pertanian adalah penentu hidup matinya  bangsa. Seakan tersimpan pesan didalamnya,  Jika pertaniannya dimanja, niscaya bangsa itu hidup sejahtera rakyatnya, namun jika pertaniannya dianak tirikan, maka sampai kapanpun, bangsa ini hanya akan menyandang predikat negara berkembang  dan terlunta-lunta masalah pangannya. Sebagaimana kita tengok hari ini. Paradigma pembangunan pertanian kebanyakan hanya sebatas wacana. Bagaimana tidak, bangsa yang hampir 45% rakyatnya hidup dari dunia pertanian ini seakan kesulitan memberi makan rakyatnya sendiri. Impor beras sebagai pangan primadona rakyat setiap tahun menjadi kebijakan pilihan. Kesejahteraan petani seolah tergadai, setiap masa tanam tiba, harga pupuk yang secara kebijakan bersubsidi malah tetap mahal karena kurang pengawasan. Belum masalah iklim yang semakin sulit ditebak dan harga pangan yang ketika panen tiba tak juga mensejaterakan. Kondisi ini semakin diperparah dengan kepedulian generasi mudanya yang semakin memalingkan muka dari dunia pertanian. Tanyakanklah pada lulusan SMA hari ini, ketika mereka lulus nanti, kemanakah mereka akan melanjutkan studi, atau pada jurusan apakah mereka akan mengembangkan diri. Dan faktanya, minat generasi muda pada jurusan-jurusan pertanian perguruan tinggi semakin menurun tiap tahunnya.

Dunia kampus : pembangun persepsi positif pertanian

Masalah pertanian sejatinya adalah masalah persepsi. Karena nyatanya, persepsi hampir setiap orang pada pertanian selalu tidak berimbang. Pertanian di benak orang seakan menjadi dunia ketiga yang didalamnya hanya ada cangkul, sawah, lumpur dan kerja para kuli. Padahal memandang pertanian selayaknya harus dengan jeli, dengan luas.  Karena dalam pertanian, sektor hulu sampai hilir selalu dilibatkan. Pertanian juga bukan hanya gabah, tapi juga sayur-sayuran, daging, susu, bahkan sampai cemilan dan makanan-makanan siap saji yang kita biasa makan. Pertanian juga tentang gizi, pengawetan, pengemasan dan penjualan. Pertanian adalah tentang sosiologi, ekonomi, komunikasi dan pengembangan masyarakat. Pertanian juga tentang iklim, tanah, topografi, daerah dan kebijakan agraria, dan yang terpenting seperti dikemukakan di atas tadi, pertanian adalah soal hidup mati. Untuk soal hidup mati ini, terasa sedih  rasanya ketika di kampus pertanian terbaik seantero negeri ini : IPB (Insitut Pertanian Bogor), yang senantiasa memandang pertanian secara komperhensif melalui lengkapnya jurusan-jurusannya masih terdengar suara sumbang tentang pertanian dari mahasiswanya sendiri. Ada yang bilang, mahasiswa IPB bisa di segala bidang, asalkan bukan pertanian. Padahal IPB sebagai kampus dengan basic pertaniannya selayaknya menjadi garda terdepan dalam membangun persepsi soal pertanian, terutama bagi generasi muda bangsa ini. Bagaimana tidak, setiap tahunnya tidak kurang dari 3000 mahasiswa, dan kebanyakan berasal dari daerah yang notabene lumbung petani menjadi tunas baru perguruan tinggi negeri pertanian ini. Persepsi positif itu bisa dibangun melalui integritas dosen-dosen dan alumninya terhadap pertanian, melalui kegiatan-kegiatan mahasiswanya yang bertemakan pertanian, dan melalui sistem pengajarannya yang menekankan arti penting pertanian, pada semua jurusan, tak peduli itu jurusan-jurusan baru yang mungkin sedikit hubungannya dengan pertanian. Karena kalau kita jeli, tujuan berdirinya IPB ini salah satunya adalah unutk memberikan kontribusi terhadap masalah pengadaan pangan rakyat, sebagaimana penggalan kalimat awal diatas yang merupakan kalimat pidato founding father bangsa ketika meresmikan kampus pertanian ini.

Solusi Kongkrit Pemerintah

Jika dunia kampus terutama IPB bereperan dalam menyediakan sumber daya manusia yang handal dan membangun persepsi positif pertanian. Maka selayaknya pemerintah tidak boleh ketinggalan, bukan hanya dalam membangun citra positif pertanian tetapi juga dalam memberikan solusi nyata terhadap permasalahan peyediaan pangan rakyat republik ini. Pemerintah harus memberikan solusi kongkrit pada dunia pertanian yang semakin dianaktirikan ini. Jika boleh menganlisis, Masalah pertama adalah pertumbuhan penduduk yang tinggi, dengan laju pertambahan penduduk rata-rata 10 tahun terakhir sekitar 1.3 % dari total 240 juta rakyat negeri ini, kebutuhan akan pangan tentuny semakin meningkat. Selayaknya pertumbuhan penduduk ini ditekan sehingga permintaan akan pangan tidak overload. Hal itu bisa dilakukan dengan memaksimalkan program KB (Keluarga Berencana) yang sampai saat ini belum tampak hasil nyatanya. Yang kedua adalah masalah konversi lahan.  Perangkat undang-undang agraria sepertinya masih belum mampu menekan laju konversi lahan, terutama lahan pertanian. Data BPS tahun 2004 mencatat terjadi penyusutan lahan sawah dalam kurun waktu terakhir selus 110.000 hektar per tahun. Sedangkan penelantaran lahan yang seharusnya produktif malah menjadi kebiasaan tanpa pengawasan. Oleh karena itu, perngakat undang-undang dan peraturan daerah sejatinya harus berpihak pada dunia pertanian. Tentunya dengan pengawasan yang ketat dan transparan. Karena dampak dari konversi lahan ini bisa jadi tidak terasa di waktu dekat, tapi di masa yang akan datang. Yang ketiga adalah masalah pengontrolan dan pengawasan terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah pusat di daerah. Karena sampai saat ini, seakan terlihat kurang koordinasi antara pusat dan daerah, kasus pupuk salah satu contohnya. Peningkatan koordinasi dan pengawasan terhadap kebijakan pemerintah seyogyanya ditingkatkan. Sehingga rakyat tidak lagi jadi korban. Terutama para petani yang semangatnya sekokoh karang. Selain itu kebijakan tanpa pengawasan adalah bohong belaka. Selain permasalah tadi, tentunya perspektif tantangan kemajuan pertanian yang lain juga mutlak dipertimbangkan. Ada faktor keidakpastian iklim dan globalisasi yang harus ditemukan solusinya bersama.

 

Pertanian Hari Ini

            Di tengah kondisi pertanian yang seakan dianaktirikan ini, tengoklah pada petani-petani desa. Bangun di pagi buta, berjuang sekuat tenaga seakan stok semangatnya tak pernah habis demi menafkahi keluarga. Lihatlah  pada penjual sayuran yang menjajakan jualannya di pasar-pasar rakyat tak kenal lelah.  Perhatikanlah semangat-semangat mahasiswa untuk mendatangi seminar-seminar pertanian dan banggalah pada semangat dan antusiasme mereka untuk terjun membangun desa, terutama pertaniannya. Berkacalah pada orang-orang seperti pak gun, petani buah naga yang sukses dari kota Jogja. Atau pada ribuan peternak dan nelayan-nelayan sukses lainnya Ya. seyogyanya kita harus senantiasa optimis, dan tentunya menebar harapan. Bahwa suatu hari nanti rakyat ini akan sejahtera dengan sokongan pertaniannya. Bahwa masih ada generasi muda yang peduli pada sektor “pemberi makan” rakyat ini. Bahwa suatu saat rakyat republik ini akan sadar, bahwa pertanian bukan hanya tentang cangkul, sawah dan pekerjaan kuli. Tapi pertanian adalah soal hidup mati.

 

 

Zaenal Muttaqin

G24090036 Mahasiswa Dept. Geofisika Meteorologi IPB

 

 

 

Tuhan yang Maha Esa,
alangkah tegangnya
melihat hidup yang tergadai,
fikiran yang dipabrikkan,
dan masyarakat yang diternakkan.

Malam rebah dalam udara yang kotor.
Di manakah harapan akan dikaitkan
bila tipu daya telah menjadi seni kehidupan?
Dendam diasah di kolong yang basah
siap untuk terseret dalam gelombang edan.
Perkelahian dalam hidup sehari-hari
telah menjadi kewajaran.
Pepatah dan petitih
tak akan menyelesaikan masalah
bagi hidup yang bosan,
terpenjara, tanpa jendela.

Tuhan yang Maha Faham,
alangkah tak masuk akal
jarak selangkah
yang bererti empat puluh tahun gaji seorang buruh,
yang memisahkan
sebuah halaman bertaman tanaman hias
dengan rumah-rumah tanpa sumur dan W.C.
Hati manusia telah menjadi acuh,
panser yang angkuh,
traktor yang dendam.

Tuhan yang Maha Rahman,
ketika air mata menjadi gombal,
dan kata-kata menjadi lumpur becek,
aku menoleh ke utara dan ke selatan -
di manakah Kamu?
Di manakah tabungan keramik untuk wang logam?
Di manakah catatan belanja harian?
Di manakah peradaban?
Ya, Tuhan yang Maha Hakim,
harapan kosong, optimisme hampa.
Hanya akal sihat dan daya hidup
menjadi peganganku yang nyata.

Ibumu mempunyai hak yang sekiranya kamu mengetahui tentu itu besar sekali
Kebaikanmu yang banyak ini
Sungguh di sisi-Nya masih sedikit
Berapa banyak malam yang ia gunakan mengaduh karena menanggung bebanmu
Dalam pelayanannya ia menanggung rintih dan nafas panjang
Ketika melahirkan andai kamu mengetahui keletihan yang ditanggungnya
Dari balik sumbatan kerongkongannya hatinya terbang
Berapa banyak ia membasuh sakitmu dengan tangannya
Pangkuannya bagimu adalah sebuah ranjang
Sesuatu yang kamu keluhkan selalu ditebusnya dengan dirinya
Dari susunya keluarlah minuman yang sangat enak buatmu
Berapa kali ia lapar dan ia memberikan makanannya kepadamu
Dengan belas kasih dan kasih sayang saat kamu masih kecil
Aneh orang yang berakal tapi masih mengikuti hawa nafsunya
Aneh orang yang buta mata hatinya sementara matanya melihat
Wujudkan cintaimu dengan memberikan doamu yang setulusnya pada ibumu
Karena kamu sangat membutuhkan doanya padamu

WS Rendra

Masih teringat dan tertanam di benak saya,, langkahnya yang gontai namun tetap menampakkan semangat lewat keceriaan wajahnya, suaranya yang parau termakan usia namun tetap menggelora, saat itu kami sedang kumpul (bahasa kerennya : Rapat) dengan teman-teman sedaerah guna membahas suatu acara di siang hari, tiba-tiba saya agak terkejut dengan suara laki-laki yang usianya tergambar lewat keriput wajahnya, jalan hidupnya terrefleksi lewat nasi uduk yang ia bawa, kesahajaannya nampak lewat peci hitam yang ia kenakan, kesederhanaannya bisa dilihat dari baju lusuh yang ia pakai. Kulitnya hitam legam, kumisnya tipis namun tampak tak rapi, tubuhnya agak kurus, namun tak tampak kelaparan. entah siapa namanya dan dari mana asalnya, yang jelas saya langsung iba, dan begitu sedih hati saya ketika saya tahu bahwa saya masih belum cukup memiliki keberanian untuk sekedar membeli nasi uduknya (walaupun saya tidak lapar) agar ia sedikit bahagia, dengan kesabaran yang ia tunjukan lewat senyuman, ia pun berlalu meninggalkan kami tanpa respon yang ia harapkan, dalam hatinya penuh harapan, nasinya akan habis terjual, walaupun saya ragu.

Selang seminggu kemudian, pandangan saya yang sedang membeli minuman di salah satu warung tiba-tiba tertuju pada sosok lelaki yang sama di pojok gang, namun ada sesuatu yang berbeda, kali ini tangan kanannya menggenggam besi yang bengkok ujungnya, sedangkan tangan kanannya memegang karung, sambil setengah tersenyum dia mengorek-ngorek tempat sampah. ya. .dia kini berganti profesi: Pemulung, dengan baju yang tetap lusuh, , dan keriput dan kumis yang sama,dalam senyum kecilnya nampak kesabaran akan hidup yang ia lalui, hanya pecinya saja yang berubah, kini dia mengenakan peci putih, mungkin ada harapan dalam dirinya : saya ingin naik haji. Entah kenapa saya tiba-tiba ingin menangis, mungkin karena saya teringat keegoisan saya padanya seminggu yang lalu. Namun mungkin lelaki itu tak pernah tahu, bahwa saya memerhatikannya.

Waktu berlalu, saya pun kini sering melihatnya “berkeliaran” di kampus dengan profesi barunya, saya sering memperhatikannya sambil kadang membayangkan, bagaimana jika ayah saya yang menjadi dia, atau bagaimana jika dia adalah ayah saya, kerja kerasnya tak pernah lelah, padahal saya disini sering malas belajar, kebahagiannya dia korbankan untuk saya, padahal saya disini sering bersenang-senang , ia tak pernah tertidur ataupun diserang rasa kantuk ketika sedang bekerja, sementara saya, tidur ketika kuliah adalah hal biasa, dengan sejuta alibi kesibukkan yang dialami. Padahal saya hanya sok sibuk, dia mengorbankan segala kenikmatannya ketika ia makan, ketika ia tidur, ketika ia berpergian, ketika ia beraktifitas, sementara saya menikmati apa yang ia tak rasakan dan mungkin yang Seharusnya ia rasakan.

Beruntunglah kita yang (kebanyakan) orang tuanya tak harus berpanas-panasan di jalan(bukan karena macet), tak harus menjajakan nasi uduk pada setiap orang, tak harus mengorek-ngorek plastik di tempat sampah, dan tak harus menarik becak sampai keletihan. Bersyukurlah kita yang setiap saat makannya terjamin (walau kadang kesusahan ketika uang kiriman belum datang), yang ketika ingin membeli fasilitas kuliah tinggal tunjuk tangan, yang pada kesempatan-kesempatan tertentu bisa melewatkan waktu bersama teman-teman seperjuangan,yang setiap waktu bisa tertawa (walau kadang didera masalah). sementara beberapa waktu yang lalu, saya melihat seorang lelaki tua mengorek-ngorek makanan dari tempat sampah yang baunya menusuk hidung, memilah-milahnya, kemudian memakannya tanpa tedeng aling-aling, sementara kemarin saya melihat seorang gelandangan kedinginan dan kelaparan di malam hari, tanpa makanan, hanya bisa merintih menahan lapar, sementara kemarin dijalan ketika melakukan perjalanan di malam hari, saya menyaksikan seorang ibu menggendong anaknya yang terus menangis dan merengek: “ma,,lapar ma. .” dan sementara barusan, saya melihat seorang anak usia sekolah memakai baju putih “setengah hitam”. Memakai celana warna merah panjang tanda ia pernah sekolah, menenteng tas yang kondisinya jauh dari kata bagus, memakai peci putih namun tak bersih, wajahnya kusam, kulitnya hitam, memakan makanan yang terbungkus kain di bawah tanah dengan lahapnya.

Semua kisah kontras diatas adlah benar adanya, namun kadang kita apatis, atau mungkin aktifitas yang kita lalui memang tak pernah menyentuh dunia mereka, padahal kita berada di belahan bumi yang sama, satu kata yang orang-orang dengan selautan kenikmatan (padahal itu ujian) sering lupakan(barangkali kita termasuk didalmnya): Bersyukur, relevansinya dengan kita yang punya predikat mahasiswa adalah mengeluh ketika banyak tugas (bahkan saya pernah mendengar seorang teman berceloteh: “tahu kuliah banyak tugas gini mah mending kawin aja”,. hehehe). Bermalas-malasan dalam belajar (termasuk saya), menggerutu karena belum siap ujian , padahal, jika mungkin orang-orang yang kontras dengan kita disuruh memilih dan menjalani hidup sebagai kita, mungkin mereka akan lebih giat dari kita, lebih rajin dari kita, dan tentunya lebih bersyukur dari kita, karena pengalaman hidup mengajarkan mereka, betapa mencari sepiring nasi itu tak mudah. Betapa kesempatan untuk mengecap pendidikan itu tak mudah, betapa derita yang kita alami ketika didera masalah adalah tak ada seujung kukunya bagi mereka.

kembali ke lelaki berpeci, mungkin saya ditakdirkan untuk mengenalnya dan mengaguminya, karena waktu menjawab dengan mempertemukan kami. beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengannya tanpa sengaja, tepat didepan sebuah masjid di perkampungan kumuh arah barat kampus ketika saya selesai shalat ashar dan singgah sejenak dalam perjalanan. Lelaki itu keluar dari rumah petak berdinding anyaman bambu dan luas setengah dari luas ruangan saya biasa kuliah, ia memakai peci putih yang sama, keriput yang sama, kumis yang sama, baju koko putih yang agak rapi tapi tampak sudah kusam, dengan sarung merah yang khas, ia memanggil perempuan sebayanya didepan rumah: “bu kadiekeun eta sendal, bade dianggo ka masjid,(bu kesinikan sendalnya, mau diapakai ke masjid)”. Si perempuan yang ternyata istrinya menghampiri dan menyerahkan sendalnya lalu masuk ke rumah, si lelaki itu menghampiri saya yang masih tidak percaya, sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman dan berkata; “entos Ashar de ?”, “entos pa”. saya menjawab. Saya langsung merasa dunia begitu sempit, padahal sangat luas. .

akhirnya saya tutup coretan-coretan ini dengan penuh harapan, kita lebih mensyukuri nikmat yang Tuhan berikan, karena tidak semua orang mempunyai kesempatan seperti kita, karena tidak semua yang ada pada kita sepenuhnya hak kita, dan semoga kita lebih mempergunakan waktu untuk belajar, lebih giat dalam beramal, lebih berguna untuk sesama, mari kita banggakan orang tua kita nan jauh disana

Sabtu  26 September menjadi hari penutup bagi seluruh rangkaian MPKMB (Masa Perkenalan Kampus Mahasiswa Baru) di kampus rakyat ini. Semua konsep acara, persiapan dan kebersamaan para panitia selama lima bulan dan kerja keras para peserta dalam mengikuti MPKMB ini akhirnya berbuah manis. capek, pegal, dan letih yang selalu menyelimuti pun seakan tak berarti apa-apa dibandingktan senyum, tawa, dan kegembiraan para peserta dan tentunya para panitia di sepanjang jalannya acara. Bahkan di akhir acara Panitia khususnya PJL dan Komdis mendadak jadi artis ketika para peserta meminta tanda tangan mereka, “kak tanda tangan disini ka, disini kak”. ujar salah satu peserta seakan lupa kalau beberapa jam dan malam sebelumnya mereka masih  menggerutu, dan mengeluh dengan tugas-tugas MPKMB dan ketegasan komdis.

MPKMB memang menjadi sebuah tradisi unik di kampus yang telah melahirkan nama-nama seperti Anton Apriantono, Mustafa Abu bakar sampai Suswono ini, berbeda dengan masa perkenalan kampus (ospek) di kampus lain, perkenalan kampus di IPB selalu di konsep secara matang dalam rangka membentuk generasi yang berkarakter, moderat, dan dinamis dalam menghadapi dunia kampus dengan sentuhan nilai-nilai agamis, moral, professional,   intelektual, empati, mandiri dan tentunya cinta pertanian dengan tanpa ada kekerasan didalamnya. Rangkaian acaranya diisi dengan training motivasi dari trainer ternama, seminar, kuliah umum dari Rektor, senam bersama, shalat berjamaah bersama, temu alumni sukses, mobilisasi bersama, bernyanyi bersama dan tak ketinggalan ada simulasi aksi sebagai bentuk pendidikan politik bagi mahasiswa baru, serta masih banyak lagi  yang lainnya. Selama jalannya acara peserta dibimbing penuh kelembutan, kebersahajaan, kesabaran dan senyuman dari para PJL (Penanggung Jawab Laskar) yang menanamkan nilai-nilai positif seperti empati, kepedulian dan perhatian melalui keteladanannya. tak perlu khawatir ada peserta atau panitia yang tidak disiplin, karena ada Komdis (Komisi Disiplin) yang siap mengingatkan tanpa kekerasan tapi dengan ketegasan. berbeda dengan di kampus lain yang kadang-kadang nuansa seniorisasi nya masih kental.

Di tengah maraknya berbagai kasus kekerasan, seniorisasi, dan pelecehan seksual yang melanda institusi pendidikan di Indonesia dalam mengenalkan kampusnya serta kondisi generasi muda harapan bangsa yang lebih tertarik mengisi waktunya dengan hal-hal yang jauh dari manfaat san merugikan orang lain dewasa ini, konsep dan pelaksanaan MPKMB ini mungkin bisa dijadikan solusi ataupun percontohan bagi institusi pendidikan lain dalam mengenalkan kampusnya sekaligus membentuk karakter generasi muda yang great, karena bagi saya MPKMB di IPB ini bukan hanya kependekan dari “Masa Perkenalan Kampus Mahasiswa Baru”, tetapi juga “Masa Pembentukan Karakter Mahasiswa Baru” khususnya karakter mahasiswa yang “Cinta Pertanian”.

-Zaenal Muttaqin, G24090036-

untuk para peserta : Selamat datang di kampus rakyat, jadilah inspirasi bagi sesama, jadilah generasi penubah bangsa menjadi bangsa yang lebih baik

untuk para panitia:

Mohon maaf jika ada kesalahan dan terima kasih atas kerjasamanya, semoga apa yang kita lakukan menjadi amal ibadah di sisi Allah, dan semoga kita selalu bisa menjadi teladan bagi semua.

Ilmiah populer adalah sarana komunikasi antara ilmu dan masyarakat (baca: orang awam). Sudah menjadi budaya, jurnal ilmiah ditulis dengan bahasa ilmiah untuk kalangan elit yaitu para ilmuwan yang memahami topiknya. Kalau sudah begitu jadinya, maka ilmu hanya menjadi milik ilmuwan, bukan milik masyarakat. Padahal peran utama iptek adalah untuk kemashlahatan penduduk bumi: semua makhluk hidup. Disinilah peran jurnalismus, menjadi PR iptek, menjadi sarana komunikasi antara ilmu dan masyarakat!

Karya ilmiah populer yang baik bukan berarti menulis hasil penelitian dengan lengkap. Prinsip utamanya adalah mencari sudut pandang yang unik dan cerdas, serta menggugah rasa ingin tahu pembaca awam. Sebetulnya menulis ilmiah populer mudah. Berbeda dengan menulis cerpen atau non-fiksi yang memerlukan keratifitas dan imajinasi tinggi. Dalam penulisan non-fiksi yang terpenting anda mengumpulkan fakta-fakta, menyeleksinya, menetapkan fokus dan meramu story. Beberapa tips yang dapat membantu dalam meramu karya ilmiah populer bisa anda ikuti dalam tulisan ini.

Menyusun strategi sebelum menulis

Think twice before writing, kata Ken Golstein penulis dari Columbia School of Journalism. Sebelum mulai menulis ilmiah populer, dan sebelum anda masuk kepada dramaturgi, sistematik tulisan, detail, setidaknya anda harus memikirkan strategi berikut:
Kepada siapa anda menyajikan tulisan anda?

Media apa yang anda pilih (internet, televisi, koran, majalah, radio, dsb)

Gaya penulisan apa yang paling tepat?

Kira-kira berapa lama pembaca meluangkan waktu untuk membaca tulisan anda?
Empat point diatas sebetulnya teknik dasar jenis tulisan apapun. Untuk ilmiah populer, teknik itu semakin urgent lagi. Ingat, menulis ilmiah populer sama dengan menterjemahkan ilmu yang ngejelimet ke dalam bahasa yang dimengerti secara umum. Tidak semua orang memahami ilmu anda, apalagi dengan banyaknya cabang ilmu pengetahuan. Spesialisasi ini menyebabkan seorang ahli paham di bidangnya tapi gak mudeng dengan bidang lain.

Kepada siapa anda menyajikan tulisan?Seberapa dalam informasi yang akan anda sajikan tergantung siapa pembacanya. Karya ilmiah populer di koran umum, tentunya lebih isinya lebih dangkal daripada di majalah scientific misalnya. Sifat tulisan untuk pembaca umum, lebih mengedepankan unsur entertainment, dibandingkan tulisan untuk komunitas spesifik (misalnya majalah khusus komputer). Selain dari segi isi, karya ilmiah populer untuk komunitas spesifik lebih banyak menggunakan technical jargon. Boleh saja, sebab disini istilah spesifik tidak akan asing lagi bagi pembacanya.

Media apa yang anda pilih?
Informasi untuk di internet, televisi, koran atau majalah berbeda cara penulisannya. Misalnya media televisi mempunyai kelebihan dapat menampilkan gambar. Sehingga penggunaan teks jauh lebih sedikit. Namun kelemahan media ini, waktu yang tersedia jauh lebih singkat daripada media cetak. Cotoh lain, perbedaan antara media cetak dan online. Media online dengan sifat revolusioner hyperlinks-nya dapat merubah alur membaca. Kelebihan sifat link ini, anda dapat mengarahkan pembaca kepada fokus yang anda tuju. Berbeda dengan media cetak misalnya buku, karakteristik membaca sifatnya linear. Anda mengarahkan pembaca melalui daftar isi.

Gaya penuturan apa yang paling tepat?Kerahkan imajinasi anda. Kira-kira bagaimana anda akan menyampaikan informasi paling tepat. Apakah dengan gaya reportase, menampilkan sosok yang bercerita, atau tutorial sifatnya.

Kira-kira berapa lama waktu yang tersedia bagi pembaca?
Pembaca koran bisayan lebih sedikit meluangkan waktu membacanya daripada pembaca majalah. Bukankah koran yang sudah seminggu dinyatakan tidak aktual lagi? Umumnya pembaca tidak mengorek-ngorek lagi koran yang sudah bertumpuk selama setahun lamanya. Semakin sedikit waktu yang tersedia, informasi yang anda sajikan semakin pendek dan harus cepat menuju sasaran.

Membidik Pembaca: Pilih Topik Menarik

Tulisan ilmiah populer anda dedikasikan untuk pembaca awam. Bukan expert yang memang berkecimpung di bidangnya. Posisikan diri anda pada pembaca. Pikirkan, mengapa anda perlu membagi ilmu anda? Apa yang membuat pembaca dapat tertarik dengan tulisan anda? Beberapa cara menggelitik motivasi pembaca:

Mengaitkan dengan kondisi aktual

Cth.: Masih segar dalam ingatankita ketika beberapa waktu yang lalu, Kementrian Komunikasi dan bersama-sama dengan komunitas telematika Indonesia meluncurkan satu konsep bulan telematika ICT (Information and Communication Technology) month yang akan jatuh pada bulan Agustus 2003. Tujuan utamanya adalah usaha sosialisasi aplikasi teknologi informasi dan komunikasi memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan kualitas kehidupan masyarakat…
IlmuKomputer.com, Strategi mengelola situs E-Learning Romi Satria Wahono

Tulisannya dimulai dengan leading kondisi aktual. Sebagian pembaca mungkin pernah mendengar konsep bulan telematika yang sedang aktual. Tapi apa sebenarnya di balik konsep itu? Nah dari kondisi aktual inilah penulis membidik pembaca.

Mengaitkan dengan kegiatan sehari-hari

Cth.: Sebenarnya menangis saat mengupas/memotong/mengiris bawang bisa menyehatkan mata. Beberapa pakar percaya, air mata yang keluar karena rangsangan hawa bawang membersihkan mata dan kelopaknya dari debu dan kuman. Keluarnya air mata ini membuat mata bening dan berbinar. pikiran-rakyat, Tak cengeng saat mengupas bawang Febdian Rusydi

Contoh diatas bernuansa entertainment, artinya topik yang dipilih mudah dicerna, membacanya bersifat refreshing. Mudah dicerna karena berkaitan erat dengan kejadian sehari-hari. Siapa yang tidak pernah merasakan perihnya memotong bawang? Lain halnya dengan tulisan ilmiah hasil penelitian kandungan bawang berikut metodenya. Siapa peduli membacanya? Ilmiah populer yang berkaitan dengan kejadian sehari-hari membuat pembaca merasa sedikit lebih clever setelah membacanya. Merasa puas mengerti apa yang terjadi disekitarnya. Dengan cara ini pembaca awam menjadi akrab dengan ilmu di luar spesialisasinya.

Menyajikan value added

Cth.: Nama baik & nilai sebuah dotcom bisa jatuh bahkan menjadi tidak berharga jika dotcom di bobol. Dalam kondisi ini, para hacker di harapkan bisa menjadi konsultan keamanan bagi para dotcommers tersebut – karena SDM pihak kepolisian & aparat keamanan Indonesia amat sangat lemah & menyedihkan di bidang Teknologi Informasi & Internet. Apa boleh buat cybersquad, cyberpatrol swasta barangkali perlu di budayakan untuk survival dotcommers Indonesia di Internet.
IlmuKomputer.com, Belajar menjadi Hacker, Onno W. Purbo

Bagi sebagian pembaca awam, hacker suatu dosa berat. Tapi penulis memilih sudut pandang yang unik: belajar hacker itu penting untuk keamanan. Dengan penyajian ini, pembaca merasa perlu belajar ilmu si penulis: ada value added dari topik yang disajikan!

Memperkenalkan ilmu atau temuan baru

Teknologi ini mula-mula dipraktekan di negara yang terkenal dengan budaya gourmet alias Perancis. Akhir-akhir ini banyak berkembang di Jerman. Bagaimana tidak, kompor dengan teknologi induksi banyak membawa keuntungan. Panasnya cepat, mudah diatur. Dan yang paling menentukan, permukaan kompor dari bahan keramik ini tidak panas sama sekali. Hanya isi panci anda yang menjadi panas! Amazing bukan? Tidak seperti kompor listrik, dengan teknologi induksi ini panas tidak terjadi pada permukaan kompor, melaikan dalam panci itu sendiri. Kochen mit Induktion, Anja Anja Arp, Servize Zeit wdr.

Memperkenalkan ilmu atau temuan baru serta mengaitkan dengan kebutuhan masyarakat adalah salah satu tugas penulisan ilmiah populer. Dengan memperkenalkan iptek, tingkat acceptance iptek itu sendiri semakin bertambah di kalangan masayarakat. Tidak harus melulu, kebutuhan sehari-hari, contoh lain sejenis misalnya manfaat penggunaan software SAP untuk bidang bisnis, teknologi baru operasi dengan laser di rumah sakit, dsb.

Dengan contoh-contoh diatas anda memahami perbedaan menyolok antara karya ilmiah dan ilmiah populer. Ilmiah populer seringkali mengangkat topik yang berkaitan dengan masyarakat awam.

Meramu karya ilmiah populer

Setelah mendapatkan topik yang pas dan bahan-bahansudah terkumpul, tahap berikutnya meramu bahan-bahan menjadi tulisan yang menarik. Bagaimana memulai menulisnya? Terkadang tulisan mengalir, bila anda memposisikan diri anda pada pembaca: seorang professor, ibu rumah tangga, manajer, politikus, mahasiswa, atau apa saja. Pikirkan apa yang kira-kira apa yang diperlukan pembaca, pertanyaan apa yang akan mereka ajukan.

Leading

Struktur klasik karya ilmiah (skripsi, disertasi atau laporan penelitian) biasanya diawali 20% pembukaan (hasil penelitian aktual, problematika aktual), 60% inti isi tulisan (metode penelitian, pemecahan permasalahan), barulah 20% terakhir kesimpulan atau masukan untuk penelitian ke depan. Seringkali karya ilmiah berhenti pada hasil penelitian atau pada ilmu itu sendiri.

Tidak demikian halnya dengan sebuah karya ilmiah populer. Tulisan jenis ini mencoba mengail minat pembaca dari sejak awal tulisan. Siapa peduli dengan problematika penelitian dan stand terakhir penelitian. Yang penting pembaca mengetahui, apa pentingnya tulisan ini bagi saya.

Oleh karena itu, leading (pembukaan) sebuah karya ilmiah populer harus merangsang motivasi pembaca. Leading memuat informasi singkat apa isi tulisan, tapi bukan rangkuman yang mengurai semuanya. Setelah membaca leading seharusnya masih tersisa sejumlah pertanyaan yang memotivasi pembaca mengetahui jawabannya dalam tubuh tulisan.

Pemaparan informasi

Pemaparan informasi dalam tubuh tulisan harus fokus, sesuai dengan tema yang disitir dalam leading. Buat alur yang menarik, sehingga pembaca mau mengikuti paragraf demi paragraf sampai selesai. Ada beberapa cara pemaparan yang baik

Haruskah alur berbentuk piramida terbalik?

Alur piramida terbalik berarti dimulai dari informasi yang terpenting sampai ke detail yang kurang penting. Keuntungannya, pembaca cepat mendapat informasi utama. Biasanya model ini dipakai untuk penulisan hard news (berita singkat). Namun untuk tulisan karya ilmiah yang komplex dan panjang belum tentu model ini bisa dipakai. Sebab terkesan membosankan. Hal yang terpenting sudah diketahui di awal, pembaca merasa sudah cukup dengan paragraf-paragraf awal. Tidak ada unsur menggelitik rasa ingin tahu lebih lanjut.

Merubah numerasi dan pembagian bab

Anda pasti mengenal struktur klasik sebuah karya ilmiah: bab utama, sub bab, dst. Atau struktur tulisan dengan pembagian A, A.1, A.2, dst. Pembagian struktur seperti ini terasa sangat kaku bila anda gunakan dalam karya ilmiah populer. Namun harus diingat, untuk tulisan yang cukup komplex pembagian struktur seperti itu sangat membantu.

Gunakan kekuatan kata-kata atau teks untuk memperjelas struktur tulisan. Misalnya pada bab utama anda tuliskan rangkuman informasi yang mewakili sub-sub bab selanjutnya. Barulah sub-sub bab memuat detail informasi. Gunakan juga karakter tulisan yang berbeda, misalnya bold atau besar huruf untuk menandakan sub kapitel. Dengan begitu penggunaan abjad atau numerasi yang terasa kaku bisa dihindari.

Alur kronologis

Artinya alur cerita mengikuti satuan waktu: jam, hari, bulan atau tahunan. Disini patokan waktu explisit tercantum. Contohnya: Karya ilmiah populer tentang pertumbuhan tanaman selama empat musim. Informasi disini akan terstruktur sesuai dengan kronologis musim.

Alur proses

Mirip dengan alur kronologis. Disini alur mengikuti proses-proses yang berurutan. Contohnya: tutorial software,

Deduksi

Penulisan ilmiah populer yang berdasar pada deduksi, memulai alur penjelasan dari hal yang umum menuju hal yang khusus. Contohnya: kebijakan pemerintah dalam masalah anggaran penelitian dan dampaknya bagi reset bidang teknologi kimia.

Induksi

Induksi kebalikan dari deduksi: dimulai dari informasi atau fakta-fakta khusus untuk menentukan kesimpulan yang berlaku umum. Dalam journalimus induksi dapatberupa penjelasan, anekdot atau analogi yang menggambarkan prinsip umum. Contohnya: beberapa contoh dan fakta kerusakan lingkungan. Dari sini dapat diambil kesimpulan kebijakan politik yang harus diambil dalam rangka pelestarian lingkungan.

Reportase

Dengan jenis pemaparan ini, anda bertutur tentang apa yang anda rekam, lihat atau rasakan dari tempat kejadian. Dengan penuturan yang baik, pembaca akan merasa live di tempat kejadian. Sebuah reportase tidak harus menceritakan kejadian dari awal sampai akhir. Seringkali diambil fokus tertentu yang diangkat ke permukaan. Contoh ilmiah populer berbentuk reportase misalnya: seminar atau konferensi ilmiah, observasi kejadian alam, reportase sebuah experimen ilmiah, dsb.
Problematika penggunaan jargon

Seberapa jauh penulis bebas menggunakan jargon? Gunakan seperlunya secara tepat. Anda bisa memberikan definisi, terjemahan, atau penjelasan. Sering juga istilah-istilah asing justru lebih singkat, padat dan tepat. Namun anda harus berhati-hati terlalu banyak akan menyulitkan pembaca. Semuanya bergantung dimana dan untuk siapa tulisan akan anda sajikan.

Menggunakan Defisini

Foodborne disease adalah penyakit yang timbul dari pencernaan dan penyerapan makanan yang mengandung mikroba oleh tubuh manusia. Penyakit ini erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Jika tidak memperhatikan kebersihan makanan dan lingkungan, maka merugikan manusia. Makanan yang berasal baik dari hewan atau tumbuhan dapat berperan sebagai media pembawa mikroorganisma penyebab penyakit pada manusia.
www.kharisma.de, drh. Rochmiyati Setiadi

Dalam tulisan diatas foodborne disease adalah istilah baku yang sulit dibuang. Penggunaan istilah spesifik ini lebih ringkas dan juga tepat. Definisi cukup diberi sekali diawal.

Menggunakan Terjemahan

Bila tidak terlalu rumit, anda cukup memberikan terjemahan dalam kurung:

Beberapa obat-obatan yang termasuk didalamnya adalah antibiotika, antihistamin (anti alergi), analgetik (penghilang rasa nyeri), antipiretik (obat penurun panas), antitusif (obat batuk), dan lain-lain.
www.kharisma.de, Melur Pandan Wangi.

Mencari padanan jargon dalam bahasa Indonesia yang singkat dan padat tidak selalu berhasil. Dalam kasus ini, bila tidak ada padanannya gunakan istilah aslinya, dengan penjelasan, definisi. Dapatkah anda membayangkan seandainya perintah dan menu Word ditulis dalam versi Indonesia?

Banyak juga jargon yang sudah diterjemahkan dalam bahasa indonesia. Dalam dunia komputer misalnya: software (perangkat lunak), network (jaringan), application (aplikasi), computing (komputasi), dsb. Untuk tips, banyak-banyak membaca tulisan ilmiah populer dari jenis yang sama. Disitu anda mendapatkan feeling jargon apa saja yang sering digunakan atau memang belum ada padanannya.

Bila definisi dan terjemahan tidak cukup

Tidak selamanya terjemahan atau definisi dapat memperjelas. Seperti kata layer yang berarti lapisan dalam konteks tutorial Photoshop:

Berikutnya anda akan belajar menggunakan layer untuk membuat gambar kota tua berlangit biru.
www.kharisma.de, tutorial photoshop, Dian Suprapto

Pembaca paham layer berarti lapisan. Tapi pembaca yang sama sekali buta software Photoshop akan kesulitan. Oleh karena itu, bukan terjemahan dan definisi yang diperlukan. Tapi berikan analogi diluar dunia Photoshop yang mudah dimengerti:

Anda dapat menganalogikan prinsip kerja layer dengan tumpukan lembar transparensi. Dengan step diatas Anda membuat lembar transparensi gambar kota tua dengan langit kosong (transparensi 1) dan transparensi bergambar langit biru (transparensi 2). Bila anda menumpuk transparensi 1 dan 2 (dengan susunan trasnparensi 2 paling bawah) maka akan menghasilkan gambar kota tuaberlangit biru.
www.kharisma.de, tutorial photoshop, Dian Suprapto

Istilah asing: bila lebih mudah diingat, gunakan!

Tulisan yang sukses biasanya justru pendek, terbatasi secara tegas dan sangat fokus. ”Less is more,” lagi-lagi kata Hemingway. Umumnya tulisan yang baik hanya mengatakan satu hal.
Penaindonesia.com, Seperti tarian burung camar, Farid Gaban

Less is more, kalimat pendek dan mudah diingat. Bila diterjemahkan ke dalam Indonesia “sedikit justru sebetulnya lebih banyak” gregetnya kurang! Namun jangan juga terlalu mubazir dalam penggunaan bahasa asing.

Istilah asing: bila tak perlu, tinggalkan!

Penggunaan istilah asing yang rumit dalam satu paragraf, akan mengganggu kenyamanan pembaca. Ingat: Writing is giving service! Seperti soto dengan banyak „ranjau“ rempah-rempah daun salam, laus, jahe, daun jeruk. Anda akan terhenti menikmati soto karena harus menyisihkan rempah! Jangan pernah berpikir: menggunakan istilah asing agar terlihat elit! Justru efek sebaliknya yang akan anda dapatkan.

Kadang-kadang pada suatu masa yang sama, dua orang pahlawan muncul secara bersamaan, pada bidang yang sama, tapi dengan molaritas heroisme yang relatif berbeda. Salah satu diantara keduanya biasanya mengalami proses iconisasi atau simbolisasi, dimana ia dianggap sebagai simbol dari epoch dan genrenya. Namun pada community yang sudah dewasa dan matang, proses iconisasi itu biasanya tidak berlanjut dengan proses sakralisasi.

Kata-kata yang bergaris bawah diatas sudah „di indonesiakan“. Namun pembaca tersandung-sandung mencerna alinea diatas. Dijamin, pembaca harus membacanya minimal dua kali hingga memahami. Sering ya, kita temukan istilah asing yang berlebihan.

Bila memang efisien, padukan dengan gambar

A picture tells thousand words, demikian kata pepatah. Seringkali kali gambar atau grafik lebih mudah dicerna daripada rangkaian kata-kata. Tapi perlu diingat, gambar saja tidak cukup harus disertai keterangan yang jelas. Contoh ini berlaku misalnya untuk tutorial. Gunakan scrennshot menu-menu software untuk memperjelas perintah.

Problematika angka

Penggunaan angka dalam karya ilmiah sudah lumrah. Terutama untuk menunjukan akurasi atau memperkuat argumentasi. Sama dengan penggunaan istilah asing atau jargon. Pencantuman angka cukup seperlunya. Bila terlalu banyak, perhatian pembaca akan tertuju pada angka dengan demikian kenyamanan membaca menjadi berkurang.

Angka sebagai penguat informasi

Cth.: Saat suhu udara mulai menghangat mulailah jenis bakteri ini berkembang dengan pesatnya. Terlebih lagi bila ia berkembang pada jenis makanan tertentu yang memang rawan salmonella, yaitu makanan yang mengandung protein tinggi. Bila kondisinya sangat menunjang, bakteri ini akan membelah diri setiap 20 menit sekali, satu bakteri akan berkembang dalam waktu 5 jam menjadi 45 000.
www.kharisma.de, Salmonella bahaya tak terlihat, Dian Suprapto.

Pencantuman angka disini memberi gambaran jelas: bakteri Salmonella pada makanan dapat bekembang demikian pesatnya.

Angka saja tidak cukup: perlu keterangan lanjut

Kecelakaan lalu lintas lebih sering terjadi pada kecepatan 50km/h. Sedangkan pada kecepatan 200 km/h lebih sedikit.

Tanpa keterangan lebih lanjut, angka-angka diatas terlihat sepintas tidak masuk akal. Mengapa justru dengan kecepatan tinggi lebih jarang terjadi kecelakaan? Jawaban logisnya terletak pada penjelasan, bahwa jarang kendaraan berkecepatan 200km/h, sehingga lebih jarang terjadi kecelakaan. Namun sayangnya dalam tulisan itu tidak ada sama sekali.

Sama seperti contoh berikut:

Dalam 5 tahun terakhir ini, jumlah penerima hadiah Nobel bidang biologi dari kalangan wanita meningkat 50%.

Angka di atas tidak menunjukan data yang akurat. Bisa saja lima tahun terakhir jumlahnya ada 4 wanita dan tahun ini menjadi 6 (hanya penambahan 2 orang).

Pencantuman angka yang tidak perlu

Banyak penulis menyangka pencantuman angka selalu memberi kesan kompeten! Sekali lagi pertimbangkan baik-baik: apakah pencantuman angka memberi nilai informasi plus atau tidak. Ingat, Less is more, kata Hemingway. Angka berlebihan hanya akan mengganggu kenyamanan membaca.

Cth.: Belum jelas terbukti apa penyebab over stimulasi ovarium atau dikenal dengan istilah OHSS (Ovarian Hyperstimulation Syndrom). Dikatakan kondisi kritis bagi pasien bila terdeteksi hematokrit (> 43), pembengkakan ovarium (> 12 cm), dst …

Bagi dokter angka-angka diatas penting untuk menegakkan diagnosa OHSS kritis. Tapi bagi pasien apa artinya? Sebab, pembaca tidak mengetahui berapa kekentalan darah (hematokrit) yang normal, atau berapa besar ovarium dalam kondisi normal. Untuk membuat brosur kesehatan bagi pasien, lebih penting menerangkan simptom yang dirasa pasien. Dan tidak melulu angka-angka pengukur.

Multi interpretasi angka statistik

Cth.: Wanita terbukti sebagai manajer handal. Hanya 15 dari 1000 perusahaan Jerman yang dimpimpin wanita mengalami bangkrut. Perusahaan yang dipimpin manajer pria lebih banyak mengalami bangkrut: 21 dari 1000 perusahaan.
Witschaftsmagazin “DM“.

Angka di atas menimbulkan interpretasi ganda:
Wanita memang betul-betul lebih handal daripada pria

Wanita memimpin perusahaan di bidang yang tidak terlalu riskan

Perusahaan yang dimpimpin manajer pria lebih cepat bangkrut? (apakah satuan waktu untuk kedua kubu sama?)

Perusahaan yang dipimpin manajer wanita lebih awet tidak bangkrut? (tapi toh kalau satuan waktu sama, akankah jumlahnya lebih banyak?
Dengan contoh diatas, penulis belum berhasil memberikan informasi dengan obyektif. Bila anda mencantumkan angka statistik, perlu memjelaskan methode pengambilan sample serta satuan-satuan lagi yang mendukung. Membaca angka lebih payah daripada membaca teks. Mengapa tidak menggunakan grafik bila lebih membantu kenyamanan membaca?

Sumber:

- Wissenschaftsjournalismus, Winfried Göpfert, 2001

- Manuskript mata kuliah ” Textverstehen – Textverständlichkeit – Textoptimierung unter Verständlichkeitsgesichtspunkten. Göpferich, Susanne, Technical Writing, university of applied sciences Karlsruhe, Germany.

- Göpferich, Susanne (1998): Interkulturelles Technical Writing: Fachliches adressatengerecht vermitteln.

- Journalistisches Texten, Jürg Häusermann 2001.

URL artikel ini: http://www.penulislepas.com/more.php?id=1246_0_1_0_M

PENGUMUMAN
Nomor :  4980  /I3/KU/2010

Tentang
PELAYANAN REGISTRASI/KRS DAN PEMBAYARAN BPMP DAN BPMK (SPP)
MAHASISWA PROGRAM SARJANA (SI) BERBASIS MAYOR MINOR
SEMESTER  GANJIL  TAHUN 2010/2011

Dengan ini diumumkan jadwal pclaksanaan dan tatacara pelayanan registrasi/KRS dan pembayaran SPP yang meliputi BPMP dan BPMK bagi mahasiswa semester Ganjil Tahun Akademik 2010/2011 sebagai berikut:

Uji Coba KRS on-line tanggal 27 s/d 29 Juli 2010, dapat dilakukan melalui jaringan internet dan intranet. Alamat Akses: http://krs.ipb.ac.id/krsOnLine/

  1. Pembimbingan (perwalian) untuk penyusunan KRS oleh Dosen Pembimbing Akademik di Departemen pengampu Mayor dimulai tanggal  26  s/d  30 Juli  2010.
  2. Pengisian KRS A secara on-line mahasiswa semester 3 dimulai tanggal 2 Agustus pukul 09.00 WIB s/d 5 Agustus 2010 pukul 16.00 WIB.
  3. Mahasiswa semester 5, 7, 9 dan 11 dimulai tanggal 3 Agustus pukul 09.00 WIB s/d 6 Agustus 2010 pukul 16.00 WIB.
  4. Setelah mahasiswa selesai dengan pengisian KRS on-¬line agar mencetak KRS tersebut untuk disetujui oleh Dosen Pembimbing Akademik. Jika Dosen Pembimbing Akademik tidak berada di tempat, penandatanganan dapat dilakukan oleh Ketua Departemen atau Sekretaris Departemen. Pada KRS tersebut tercantum daftar matakuliah yang akan diambil mahasiswa dan besarnya SPP yang harus dibayar oleh mahasiswa.
  5. Pelayanan KRS-B akan dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus s/d 3 September 2010 hingga pukul 16.00 WIB secara on-line. Layanan pembayaran BPMP dan BPMK untuk mahasiswa semester ganjil Tahun Akademik 2010/2011 akan dilakukan pada periode tanggal 15 s/d 24 September 2010. Tatacara pembayaran akan diberitahukan kemudian oleh Direktorat Keuangan.
  6. Tatacara  prosedur KRS B sebagai berikut:
    a.    Mahasiswa dapat menambah banyaknya matakuliah yang diambil sepanjang masih memenuhi batas sks yang diijinkan dan disetujui oleh Dosen Pembimbing Akademik.
    b.    Hasil Perubahan KRS (KRS-B) dicetak dan ditandatangani mahasiswa dan Dosen Pembimbing Akademik. Jika Dosen Pembimbing Akademik tidak berada di tempat, penandatanganan dapat dilakukan oleh Ketua Departemen atau Sekretaris Departemen.
    c.    Pembatalan atau penambahan matakuliah yang diambil akan menjadi dasar perhitungan ulang biaya komponen BPMK yang harus dibayar mahasiswa.Untuk diperhatikan:

    • Selama KRS on-line disediakan layanan terpadu di Ruang Sidang Direktorat Administrasi Pendidikan Gedung Andi Hakim Nasoetion (Rektorat) Lantai I setiap hari kerja mulai jam 9.00 s/d 15.30 WIB.
    • Bagi mahasiswa yang membuat ATM/KTM pengganti dan belum mcnyerahkan Nomor Rekening agar menyerahkan ke Direktorat Administrasi Pendidikan, Gedung Andi Hakim Nasoetion (Rektorat) Lantai I Loket 3 selambat-lambatnya tanggal 3 September  2010.
    • Mahasiswa yang telah mempunyai Surat Keterangan Lulus (SKL) yang telah ditandatangani oleh Wakil Dekan Fakultas agar melapor ke Direktorat Administrasi Pendidikan, Gedung Andi Hakim Nasoetion (Rektorat) Lantai I Loket 3 sampai dengan tanggal 3 September 2010 dengan menyerahkan copy SKL agar tidak dimasukkan dalam daftar penagihan SPP.
  7. Mahasiswa yang mempunyai indikasi memenuhi syarat untuk “diberhentikan” berdasarkan hasil studi semester genap 2009/2010 tidak diikutkan pada proses KRS On-line.
  8. Kepada Mahasiswa yang tidak melakukan pembayaran BPMP dan BPMK dan tidak mengisi KRS sesuai dengan ketentuan IPB, akan dikenakan sanksi status non aktif yang akan ditetapkan dengan SK Rektor.
  9. Perkuliahan semester ganjil 2010/2011 dimulai tanggal 23 Agustus 2010.

Demikian untuk dapat diperhatikan dan dilaksanakan dengan sebaik – baiknya.

Bogor,    14    Juni  2010

Wakil Rektor
Bidang Akademik  dan Kemahasiswaan,

ttd

Prof. Dr. Ir. Yonny Koesmaryono, MS.
NIP : 19581228 198503 1 003

SUMBER : Direktorat AJMP IPB

http://www.ipb.ac.id



Dalam Al-Qur’anul Karim Surat Al-Ashr (103): 1-3, Allah berfirman yang artinya sebagai berikut.

1. Demi masa.

2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Ayat di atas menjelaskan bahwa manusia memang benar-benar berada dalam kerugian apabila tidak memanfaatkan waktu yang telah diberikan oleh Allah secara optimal untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik. Hanya individu-individu yang beriman dan kemudian mengamalkannyalah yang tidak termasuk orang yang merugi, serta mereka bermanfaat bagi orang banyak dengan melakukan aktivitas dakwah dalam banyak tingkatan.

al-ashr.gif

Lebih lanjut, dalam Al-Qur’an surat Al-Imran (3) ayat 104, Allah berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.”

Dengan demikian, hanya orang-orang yang mengerjakan yang ma’ruf dan meninggalkan yang munkarlah orang-orang yang memperoleh keuntungan.

Setiap muslim yang memahami ayat di atas, tentu saja berupaya secara optimal mengamalkannya. Dalam kondisi kekinian dimana banyak sekali ragam aktivitas yang harus ditunaikan, ditambah pula berbagai kendala dan tantangan yang harus dihadapi.

Seorang muslim haruslah pandai untuk mengatur segala aktivitasnya agar dapat mengerjakan amal shalih setiap saat, baik secara vertikal maupun horizontal. Secara vertikal, dirinya menginginkan sebagai ahli ibadah, dengan aktivitas qiyamullail, shaum sunnah, bertaqarrub illallah, dan menuntut ilmu-ilmu syar’i. Dalam hubungannya secara horizontal, ia menginginkan bermuamalah dengan masyarakat, mencari maisyah bagi keluarganya, menunaikan tugas dakwah di lingkungan masyarakat, maupun di tempat-tempat lainnya.

Semua itu tentu saja harus diatur secara baik, agar apa yang kita inginkan dapat terlaksana secara optimal, tanpa harus meninggalkan yang lain. Misalnya, ada orang yang lebih memfokuskan amalan-amalan untuk bertaqarrub ilallah, tanpa bermu’amalah dengan masyarakat. Ada juga yang lebih mementingkan kegiatan muamalah dengan masyarakat, tetapi mengesampingkan kegiatan amalan ruhiyahnya.

Dalam hal ini, manajemen waktu untuk merencanakan, mengatur, dan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang ada haruslah memiliki landasan-landasan berikut.

1. Pengetahuan kaidah yang rinci tentang optimalisasi waktu

Setiap muslim, hendaknya memahami dan mengetahui kaidah-kaidah yang rinci tentang cara mengoptimalkan waktunya. Hal ini bertujuan untuk kebaikan dan kemaslahatan dirinya dan orang lain. Tokoh-tokoh seperti Imam Ibnul Jauzi, Imam Nawawi, dan Imam Suyuthi adalah orang-orang yang menjadi teladan bagi orang-orang yang bisa mengoptimalkan waktu semasa hidupnya.

2. Memiliki manajemen hidup yang baik

Setiap muslim haruslah pandai mengatur segala urusan hidupnya dengan baik, menghindari kebiasaan yang tak jelas, matang dalam pertimbangan dan mempunyai perencanaan sebelum melakukan pekerjaan. Ia harus berpikir, membuat program, mempersiapkan, mengatur dan melaksanakannya.

3. Memiliki Wudhuhul Fikrah

Seorang muslim haruslah memiliki keluasan atau fleksibilitas dalam berpikir, seperti mampu berpikir benar sebelum bertindak, berpengetahuan luas, mampu memahami substansi pemikiran dan paham. Hal itu penting sebagai dasar pengembangan berpikir ilmiah.

4. Visioner

Seorang muslim juga harus memiliki pandangan jauh ke depan, bisa mengantisipasi berbagai persoalan yag akan terjadi di tahun-tahun mendatang.

5. Melihat secara utuh setiap persoalan

Setiap orang yang dapat mengatur waktunya secara optimal, tidak melihat masalah secara parsial. Karena bisa jadi, persoalan itu memiliki kaitan dengan yang lainnya.

6. Mengetahui Perencanaan dan skala prioritas

Mengetahui urutan ibadah dan prioritas, serta mengklasifikasi berbagai masalah adalah faktor penting dalam mengatur waktu agar menghasilkan kerja yang optimal. Dengan membuat skala prioritas, akan menghindarkan dari ketidakteraturan kegiatan.

7. Tidak Isti’jal dalam mengerjakan sesuatu

Mengerjakan sesuatu dengan tidak tergesa-gesa dan berdasar pada ketenangan jiwa yang stabil merupakan landasan yang penting dalam mewujudkan hidup yang lebih baik.

Sementara, orang yang musta’jil menginginkan agar dalam waktu singkat ia mampu melakukan hal-hal yang terpuji, sekaligus meninggalkan hal-hal yang tidak terpuji. Hal ini jelas tidak sesuai dengan sunah kauniyah, yaitu hukum alam dan kebiasaan.

8. Berupaya seoptimal mungkin

Jika kita menginginkan terwujudnya aktivitas amal shalih, maka secara optimal kita harus mengarahkan diri pada persoalan itu sesuai kemampuan yang ada pada diri kita.

9. Spesialisasi dan pembagian pekerjaan

Setiap muslim haruslah memiliki keahlian tertentu. Ia boleh memiliki pengetahuan luas, tetapi ia juga perlu memfokuskan pada keahlian tertentu.

Landasan-landasan di atas hanya dapat dipenuhi, jika telah memenuhi syarat sebagai berikut.

1. Disiplin dan Pembiasaan sejak dini

Penanaman disiplin akan waktu, mengahargai waktu sejak kecil merupakan hal penting. Dengan demikian, ia akan terbiasa untuk mengatur hidupnya secara mandiri dan optimal untuk merencanakan berbagai macam aktivitas. Disiplin terkait dengan ibadah, tidur, makan, termasuk senda gurau. Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Berilah istirahat hati karena kalau dipaksakan akan membabi buta.”

2. Memiliki kecerdasan dan kejeniusan

Munculnya indikasi kecerdasan pada seseorang merupakan faktor penting untuk bisa mewujudkan hal di atas.

3. Memiliki kondisi fisik dan mental yang positif

Untuk melaksanakan manajemen waktu yang optimal, memang perlu ditunjang dengan adanya keinginan yang kuat, tindakan yang terus menerus, aktif, lapang dada, penuh optimisme, berpengetahuan luas, mampu memadukan berbagai pemikiran dan mampu mengendalikan emosi, seperti sedih, berduka dan susah, di samping memiliki budi pekerti dan akhhlak yang tinggi.

4. Memiliki ketrampilan

Pengetahuan yang luas, tanpa diiringi dengan ketrampilan hanya akan menjadi aksi yang tidak kongkret. Banyak orang yang pandai berbicara, tetapi hanya sedikit orang yang bisa bekerja dan menekuni bidang pekerjaannya.

http://www.dakwatuna.com/2007/manajemen-waktu-dan-kualitas-diri/